oleh: Restu Wijayanti
Saat ini ada begitu banyak teknologi yang digunakan dalam perawatan bayi prematur di perinatologi maupun Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Penggunaan alat-alat canggih, seperti monitor kardiorespirasi, ventilasi mekanik, akses intravena sentral, sangat menunjang proses penyembuhan, sekaligus menjadi sumber stressor bagi bayi-bayi yang dirawat. Paparan stimulasi yang berlebihan, rasa sakit karena berbagai prosedur, dapat menyebabkan efek fisiologis, psikologis, maupun prilaku pada bayi saat ini bahkan dimasa yang akan datang.
Developmental care merupakan sebuah pendekatan yang berupaya memodifikasi lingkungan bayi prematur untuk mengurangi stresor eksternal. Ini membantu bayi prematur untuk memfokuskan energinya untuk tumbuh dan menjadi lebih baik. Selain itu dapat digunakan juga untuk mengenali isyarat fisiologis dan perilaku unik dari bayi prematur sebagai dasar untuk interaksi dan intervensi.
Salah satu karakteristik bayi prematur, terutama bayi sakit, memiliki tonus otot yang lemah dengan postur yang cenderung ekstensi. Bayi prematur seringkali tidur terlentang dengan posisi tubuh lurus dan panggul yang menjauhi sumbu tubuh. Bayi-bayi ini tidak bisa merubah postur tubuhnya tanpa bantuan dari perawat, terutama pada bayi prematur yang lahir sebelum usia 34 minggu.
Beberapa studi klinis menunjukkan postur tubuh bayi prematur yang tidak tepat dapat berdampak negatif pada perkembangan neuromuskular dan menghambat kemampuan pengaturan diri bayi. Bayi prematur dengan posisi yang salah sering kali menunjukkan tanda-gangguan neurobehavioral, seperti perilaku mengantuk, tubuh gemetar, gerakan tubuh yang tidak teratur, serta koordinasi motorik dan saraf pusat yang buruk.
Pengaturan posisi merupakan intevensi yang penting bagi optimalisasi fungsi sistem organ pada bayi prematur. Intervensi posisi yang diberikan pada bayi dapat berupa posisi supinasi, pronasi, dan lateral kanan dan kiri, serta modifikasi posisi prone berupa posisi semiprone. Pengaturan posisi merupakan intervensi mandiri perawat yang sangat bermanfaat, serta menjadi salah satu strategi intervensi dalam developmental care.
Posisi janin secara fisiologis dalam kandungan adalah fleksi, kepala dan leher tegak lurus, bahu abduksi, tangan mengarah ke garis tengah tubuh dan mulut, pelvis mengarah kebelakang sementara bahu mengarah depan, fleksi ekstremitas atas dan bawah, kaki menyilang, dan tampak seperti terkurung yang sering disebut posisi “mid-line control symetrics”. Pemberian posisi fleksi fisiologis (fleksi pada bahu, pingggul dan lutut, scapular protraction, dan posterior pelvic) dan orientasi midline menggunakan nesting memiliki manfaat dalam optimalisasi perkembangan postur dan neuromuskular bayi. Posisi janin dalam kandungan ini menjadi dasar dalam memberikan berbagai alternatif posisi seperti supinasi, pronasi, dan lateral.
Gambar 1: Pengaturan posisi bayi dalam nesting
source: Boxwel (2010): Neonatal Intensice Care Nursing
Penggunaan nesting juga merupakan salah satu strategi intervensi dalam developmental care, untuk mempertahankan posisi bayi dan memberikan rasa nyaman. Teknik penggunaan nesting ini cukup sederhana, hanya dengan memanfaatkan beberapa lembar kain yang digulung membentuk ‘sarang’. Bayi dapat mempertahankan posisi dan postur fleksi, serta memberikan rasa seperti berada di dalam rahim ibu.
Gambar 2: Modifikasi Nesting
source: Jurnal Keperawatan Indonesia, 2019
Aplikasi penggunaan nest di Indonesia umumnya menggunakan modifikasi dari potongan beberapa kain yang digulung. Modifikasi ini dapat digunakan selama memenuhi unsur-unsur sebagai berikut; (1) kain yang digunakan merupakan kain yang lembut dan mampu menyerap keringat dengan baik, (2) kain tidak berserabut sehingga menimbulkan risiko terhadap gangguan pernapasan bayi, (3) nest yang dibuat cukup kokoh untuk mempertahankan posisi bayi, (4) nest dibuat minimal setinggi tebal tubuh bayi agar dapat memberikan efek “containment” pada bayi. Nest modifikasi ini pada umumnya membutuhkan bantuan beberapa lipatan kain yang digunakan untuk membantu memperkuat penataan posisi pada bayi.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menguji efektifitas nesting terhadap stabilisasi posisi serta respon fisiologis bayi dalam kaitannya dengan developmental care. Bahkan sekelompok peneliti di China, pada tahun 2021 telah mencoba mengembangkan modifikasi nesting yang lebih modern dan lebih stabil dalam menjaga posisi bayi. Selain itu dikatakan, nesting modern ini lebih efektif dalam memelihara kualitas tidur terjaga bayi, meskipun penelitian lain masih terus perlu dilakukan terkait hal ini.
Gambar 3: Modern Nesting
source: Journal Neonatal Nursing, 2021
Meski sederhana, manfaat positioning dan nesting dalam perawatan bayi prematur. Telah banyak penelitian di seluruh dunia yang membuktikan manfaat strategi intervensi ini. Beberapa diantaranya adalah:
- Membantu perkembangan otot normal dan pergerakan normal lengan dan kaki bayi
- Meminimalkan ketegangan pada leher, bahu, dan pinggul bayi
- Memperbaiki bentuk kepala bayi
- Meningkatkan rasa nyaman, mengurangi stress pada bayi
- Meningkatkan kemampuan self-regulatory
- Memperbaiki pernafasan dan sirkulasi
- Meminimalkan penggunaan energi, sehingga tumbuh kembang lebih optimal
- Memperbaiki siklus tidur terjaga bayi
Melihat dari banyaknya manfaat yang dihasilkan, positioning dan nesting ini diharapkan menjadi salah satu strategi intervensi mandiri yang dapat diterapkan secara rutin oleh perawat pada perawatan bayi prematur. Selain itu, masih banyak hal yang bisa dikembangkan dan diteliti agar semakin memberikan manfaat serta mencapai luaran yang diharapkan, bukan hanya jangka pendek, namun juga terhadap kualitas kehidupan bayi dimasa yang akan datang.
PUSTAKA
- Efendi, D., Sari, D., Riyantini, Y., Novardian, N., Anggur, D., & Lestari, P. (2019). Pemberian posisi (positioning) dan nesting pada bayi prematur: evaluasi implementasi perawatan di neonatal intensive care unit (NICU). Jurnal Keperawatan Indonesia, 22(3), 169-181.
- Kahraman, A., Başbakkal, Z., Yalaz, M., & Sözmen, E. Y. (2018). The effect of nesting positions on pain, stress and comfort during heel lance in premature infants. Pediatrics & Neonatology, 59(4), 352-359.
- Madlinger-Lewis, L., Reynolds, L., Zarem, C., Crapnell, T., Inder, T., & Pineda, R. (2014). The effects of alternative positioning on preterm infants in the neonatal intensive care unit: A randomized clinical trial. Research in Developmental Disabilities, 35 (2), 490–497. https://doi.org/10.1016/j.ridd.2013.11.019.
- Radwan, R. I. M., & Mohammed, A. A. A. (2019). Effect of nesting position on behavioral organization among preterm neonates. International Journal of Novel Research in Healthcare and Nursing, 6(3), 803-18.
- Reyhani, T., Ramezani, S., Boskabadi, H., & Mazlom, S. (2016). Evaluation of the effect of nest posture on the sleep-wake state of premature infants. Evidence Based Care, 6(1), 29-36.
- Tang, X., Bei, F., Sha, S., & Qin, Y. (2021). The effects of a postural supporting “New Nesting Device” on early neurobehavioral development of premature infants. Journal of Neonatal Nursing, 27(3), 191-199